Kamis, 28 Januari 2016

Moralitas Di ambang Krisis (Tugas)

Nama   : Sholihatul Muniroh
Matkul : Seminar Pembangunan

Moralitas Di ambang Krisis

Diawali dengan kata pembangunan. Banyak para ilmuwan-ilmuwan mengulas tentang sebelas huruf tersebut. Dari zaman dulu hingga sekarang, pembangunan menjadi hal yang sering didengungkan oleh para pejabat, petinggi, birokrat, teknokrat dan semacamnya. Kata itu seperti memiliki makna sakral yang harus diwujudkan. Para pendiri negara sedang berlomba-lomba mewujudkan di negaranya masing-masing. Kebijakan apapun diberlakukan, kekayaan berapapun dikeluarkan, tidak peduli rakyat miskin, anak terlantar, pedagang kaki lima, pedagang emperan, toko kelontong, rumah-rumah digusur, pedagang asongan diusir atau apapun yang menghalangi jalannya, segera dibumihanguskan sebagai dalih pembangunan.
Pembangunan dianggap sebagai obat mujarab di negara yang sedang berkembang. Para presiden sedang memikirkan

Kamis, 07 Januari 2016

MalezzzZZzZ…

MalezzzZZzZ…

Malas. Apa perlu aku menuliskan kata malas ini? sungguh aku benar-benar malas, bahkan hanya untuk menulis ‘malas’. Aku menulis tulisan ini pun dengan rasa malas yang menggelayut. Di bahuku, kakiku, bahkan pikiranku. Ia selalu membayang seperti hantu. Ia menjerat diriku tanpa ampun. Membayangkan khayalan-khayalan yang hadir di pikiranku. Rasanya ia ingin agar aku terlelap dalam buaiannya. Tersenyum mesra pada sang waktu yang telah memberikan berlimpah ruah waktu menganggur tanpa menghasilkan suatu karya apapun. Aku takut. Ia menyeretku terlalu dalam. Hingga aku jatuh terjerembab tak berdaya. Aku baru sadar ketika waktu mulai menghimpitku hingga sesak napas. Padahal aku tidak punya dan tidak ingin punya jenis penyakit macam ini. Aku ingin menghirup udara bebas. Apa masih pantas bila sekarang aku ingin menghirup udara bebas, sementara udara sekitar masih kotor?

Sabtu, 19 Desember 2015

Benang Merah Kehidupan

Benang Merah Kehidupan

Ketika kau merasakan hidupmu yang paling menderita, ingatlah masih ada yang jauh menderita darimu.
Ketika kau merasakan hidupmu jauh lebih baik dari mereka, maka berbagilah kebahagiaan yang kau dapat.
Ketika kau jatuh, ingatlah di depan masih ada hal yang tidak hanya membuatmu jatuh, bahkan membuatmu pingsan.
Ketika kau terlena dengan seisi dunia ini, ingatlah malaikat maut datang tanpa permisi lebih dulu.
Ketika kau bekerja untuk duniamu, bekerjalah dengan giat seakan-akan kau hidup selamanya, dan ketika

Minggu, 13 Desember 2015

Dongeng (telah terbit dalam antologi "Cerita dari Waktu ke Waktu).. Penerbit : FAM Publishing

Ular dan Sang Kakek

Di sebuah hutan yang lebat, tinggallah seekor ular besar. Setiap hari ular itu mencari mangsa. Hewan apapun yang ia temui, ia makan. Tak peduli besar atau kecil tubuhnya. Pada suatu hari, sang ular pergi mencari makan. namun tak satupun dia mendapatkan makanan. Hari itu panas sekali hingga membuat sang ular kehausan. Lalu ia mencari sungai terdekat dan menceburkan diri ke dalamnya. Ia meminum air sungai dengan sangat rakusnya. Ular juga berharap agar ia menemukan ikan yang mungkin tersesat atau lagi asyik-asyiknya berenang. Namun ia tampak kecewa. Seharian dia mencari makan, tapi tak kunjung dapat.
“Kemana perginya semua hewan-hewan?” Pikirnya.
Meskipun ular badannya besar, ia merasa ketakutan, jangan-jangan hanya tinggal dirinya seorang di dalam hutan. Alangkah terkejutnya ia, ketika

Selasa, 01 Desember 2015

Tertawa, Nasi Goreng dan Hujan

Malam itu, aku dan kedua temanku merasa lapar. Aku berpikir hanya aku dan temanku sajalah yang merasa lapar, tapi ternyata teman-teman yang lain merasakan hal yang sama. Lalu kucoba mengikuti teman-teman yang lain pergi ke warung di pasar.
Pasar itu masih buka di malam- malam seperti ini, namun hanya sebagian warung di depan pasar saja yang buka.
Jarak dari sekolah sampai pasar tidak begitu jauh, sehingga cukup dengan berjalan kaki. Toh teman-teman yang lain juga berjalan kaki. Tapi ada pula yang naik motor atau sepeda ontel.
Beberapa menit kemudian, sampailah di depan pasar. Ramai. Apalagi penjual makanan. Laris manis. Ada nasi goreng, soto, sate, penyetan, dan menu-menu lain yang tidak mungkin aku sebutkan satu per satu

Minggu, 29 November 2015

Tak Tahu Ini Apa

Tak tahu ini apa. Masak sama anak kecil. Hmmmm... apa yang terjadi? What happen...? dia mirip, tapi siapa? mungkinkah di masa laluku.. tapi siapa? atau seseorang yang di bank? Atau aktor film, tapi dia pas banget buat film ku. Tapi jadi siapa? peran apa? Lebih tepatnya pencuri hati yang masih kecil dan terlihat dewasa, hmmm...., kupandangi dia dari jauh, tapi hanya senyum manisnya yang ku peroleh. Ku ingin coba tanya padanya, tapi Aku tak bisa. Olala, akhirnya aku tanya pada temannya.
“Kelas berapakah ia?”, tanyaku penasaran tapi ku coba menghadapi gelombang penasaranku. We o we... kelas dua. Dua SMP, masak aku terpukau dengan anak masih kecil? Ya tuhan, gayanya sungguh anggun. Dari baju, celana, dan kopiah yang dikenakannya pas banget di tubuhnya, seperti di pesantren, tampilannya menawan. Hmmm... sungguh, memang aku tahu kalau disana tak ada yang lebih tua usianya, tapi salah besar aku menilainya, kukira dia dua SMA atau tiga SMA, eh meleset, semuanya salah, aku terjebak

Sabtu, 28 November 2015

Apakah Membaca itu Membosankan?

Jawabannya, tidak. Membaca itu menyenangkan. Bahkan kumasukkan ke dalam salah satu hal yang bisa menghiburku. Di saat aku lagi suntuk, bad mood, atau lagi banyak masalah. Membaca memberikan solusi jitu. Bahkan caraku memahami dunia ini adalah dengan membaca. Melalui cerita-cerita pada lembaran demi lembaran yang kubaca.
Ketika kamu bosan atau tidak tertarik untuk membaca, coba deh, dibaca dengan cara yang berbeda. Bukan seberapa banyak buku yang kau habiskan dalam sehari, tapi seberapa banyak cerita, berapa banyak ilmu, dan berapa banyak pesan yang bisa kau singkap dalam satu buku. Apa kau sudah mengunjungi
Tutorial Ngepet

Duwit, duwit, dan duwit. Gesek-gesek dinding. Lilin menyala liar. Betul-betul dilindungi. Takut padam. Ajaib. Duwit segudang muncul tepat di depan lilin. Kaya mendadak.

Bandingkan dengan ini,

Ilmu, ilmu, dan ilmu. Gabung di majelis ilmu, bergaul dengan orang berilmu, mengamalkan ilmu. Ikhlas. Betul-betul tanpa pamrih. Takut dosa.

Jumat, 27 November 2015

My Trip (Madiun, East Java)

My Trip (Madiun, East Java) – Hari Ketiga

01.00 dini hari, kami dibangunkan oleh penjaga masjid. Jawaban kami tetap sama. Mau pulang tetapi kehujanan, jadi tertunda. Bapak penjaga itu meminta KTP kami. Kami pun menyerahkannya. Kemudian bapak penjaga menyuruh kami agar kembali tidur. Kami baru bangun pukul 03.38 WIB. Seorang perempuan setengah baya mengagetkan kami. Ia ramah menyapa kami. Akhirnya kami pun tidak melanjutkan tidur lagi. Kami segera ambil air wudlu. Sebentar lagi shubuh. Setelah itu kami berkemas. Pukul 04.37 WIB kami mencari bapak penjaga yang mengambil KTP kami. Kebetulan kami bertemu di depan masjid. KTP kami baik-baik saja. Kami pamit dan bergegas pergi menuju alun-alun. Sepagi itu alun-alun sudah mulai menampakkan keramaiannnya. Para penjual aneka makanan dan jajanan segera membuka dagangannya. Rencana untuk ke car free day kami urungkan. Kami sedari tadi hanya duduk-duduk di tempat kami duduk tadi malam. Sesekali aku menguap dan ingin melanjutkan tidur. Bos Ririn mengajakku kembali ke masjid untuk cuci muka dan cari makan. Sebenarnya aku enggan untuk kembali ke masjid. Mereka semua pasti melihat ke arah kami. Gara-gara kami tidur di masjid semalam. Hufft..
Tuh kan bener, saat giliran aku cuci muka,

My Trip (Madiun, East Java)

My Trip (Madiun, East Java) – Hari Kedua
           
            Kami membagi jam tidur. Jam 21-24, aku yang tidur sementara bos berjaga. Sedangkan jam 24-03, ganti aku yang berjaga, bos yang tidur. Aku pun menyetujuinya dan langsung merebahkan tubuh di lantai pojok sebelah kiri. Tidak beberapa lama kemudian, kami dibangunkan oleh seorang lelaki penjaga masjid. Entah siapa orang ini, bapak2 atau mas2, wajahnya tak jelas. Maklum aku ngantuk berat. Sementara bapak penjaga itu terus memberondong kami dengan pertanyaan identitas dan apa tujuan kami tidur di masjid. Akhirnya  ndak bisa pulang karena kehujanan menjadi alasan. Meskipun sempat geger sama bos Ririn gara-gara alasan, tapi kami baik-baik saja. Hanya KTP yang diambil oleh bapak penjaga itu. Katanya boleh diambil saat kami mau pulang besok shubuh. Bapak penjaga itu meninggalkan kami dan menyerahkan bungkusan makanan yang ia bawa pada kami. Sepertinya habis kondangan. Kami tak memusingkan hal itu. aku pun kembali tidur.
            Tepat pukul 00.13 WIB, kami dibangunin lagi oleh bapak penjaga masjid tapi bukan lelaki tadi. Bapak penjaga yang merampas KTP berbadan gemuk, sedangkan bapak yang ini mempunyai badan yang tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Kami disuruhnya tidur

Rabu, 18 November 2015

My Trip (Madiun, East Java)

My Trip (Madiun, East Java) – Hari Pertama

Siap-siap. Kereta mau berangkat. Tepat 09.35 WIB aku dan bos Ririn meluncur menuju Madiun. Dengan kereta api bisnis yang tanpa sengaja dipilih akhirnya keinginan kami sebentar lagi akan terlunasi. Madiun menjadi lokasi jj (jalan-jalan) pertama kami dan kereta api sarangan menjadi kereta pertama yang aku naiki. Ternyata begini rasanya naik kereta. Lumayan nyaman sih.. daripada naik bus, aku harus menanggung mual dan muntah. Tak lupa juga kami mengabadikan dua foto imut milik kami (pisss).
Dalam perjalanan, aku masih sibuk berkutat pada tulisan ini. Sesekali mengarahkan pandangan ke jendela. Melihat pohon, rumah, tempat ibadah, gedung, dan aneka fly over yang segera tertinggal di belakang. Sementara bos Ririn sibuk pula dengan tablet barunya hehe maklum masih baru. Sesekali pula kami ngobrol dengan selingan canda tawa.
Beberapa stasiun dilewati. Akhirnya aku menyerah. Aku ingin

Hati

Assalamualaikum sahabat semua.. long time no see.. how are you today.. Sudah lama aku tak nge-post tulisan apapun, tapi kini aku ingin men...